Warning: Table './muinewdb/sessions' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT u.*, in /home2/chroot/mui/htdocs/includes/database.mysql.inc on line 172
Hukum ketika Haid/Nifas baca Al Qur'an? | Majelis Ulama Indonesia

Hukum ketika Haid/Nifas baca Al Qur'an?

Assalamualaikum,

- Apa hukum wanita yang sedang haid/nifas membaca Al Quran?

- Bagaimana kalau dia ingin belajar membaca Alk Quran?

- Apa membaca Al Quran harus selalu membaca muskhaf Al Quran?

- Bagaimana kalau sudah hafal?

- Apa wanita yang sedang haid/nifas boleh masuk ke masjid?

- Bagaimana kalau dia melakukan aktifitas di dalam masjid, misalnya pengajian, belajar membaca Al Quran?

Terima kasih.

Tri-solo Wasalammualaikum.

Jawaban

Jawaban

Alhamdulillah, as-sholatu was-salamu ‘ala rasulillah, la haula wala quwwata illa billah, waba’d.

Pada dasarnya seorang muslim/muslimah dianjurkan untuk membaca al-quran, karena membaca al-quran merupakan bagian dari ibadah (al-muta’abbad bi tilawatihi). Namun untuk membaca al-Quran disyaratkan untuk bersuci terlebih dahulu dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar. Nah, orang yang sedang haidh atau nifas adalah termasuk orang yang sedang menanggung hadats, oleh karenanya tidak boleh membaca al-Quran, sebagaimana sabda rasulullah SAW:

لا يَقْرَأ الْحَائِضُ وَلا الْجُنُبُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ

Orang yang sedang haidh atau junub tidak boleh membaca sesuatu dari al-Quran” HR. at-Tirmidzi dan al-Baihaqi.

            Yang perlu diperhatikan bahwa pengertian “membaca” di sini adalah mengucapkan ayat-ayat al-Quran melalui mulut, baik dengan melihat mushhaf ataupun dengan mengucapkan ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Sedangkan apabila orang yang sedang haidh/nifas tersebut hafal ayat-ayat al-Quran kemudian membacanya dalam hati, maka yang demikian itu dibolehkan.

Memang, ada pendapat dalam mazhab Malikiyah yang membolehkan bagi orang haidh untuk membaca al-Quran, dengan alasan bahwa sayyidatina Aisyah R.A. pernah membaca al-Quran dalam keadaan sedang haidh. Namun pendapat tersebut ditentang oleh sebagian besar (jumhur) ulama, dengan alasan bahwa apa yang dilakukan oleh sayyidatina Aisyah RA tersebut (jika riwayatnya dianggap shahih) bukan otomatis menunjukkan bolehnya membaca al-Quran bagi orang yang sedang haidh, karena bertentangan dengan sabda nabi di atas dan bertentangan dengan pendapat para sahabat lainnya.

            Selain itu, orang yang sedang haidh/nifas juga dilarang untuk berdiam diri atau beraktifitas di masjid, sebagaimana sabda rasulullah SAW:

لا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلا جُنُبٍ

Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang sedang haidh ataupun yang junub” HR. al-Bahaqi.

Namun apabila aktifitas yang dilakukan hanya sebentar (misalnya berjalan sepintas-lalu) dan yakin tidak akan mengotori masjid maka yang demikian itu dibolehkan (lihat: al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab). Dengan demikian menjadi jelas bahwa orang yang haidh/nifas tidak boleh beraktifitas terlalu lama di masjid, termasuk mengikuti pengajian apalagi belajar membaca al-Quran.

Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bishshawab.


RSS / XML (Sindikasi)

Sindikasi materi

Kalender Kegiatan

« Maret 2010
MSSRKJS
123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031

Agenda Kegiatan

  • Belum ada agenda kegiatan

Web Statistik


Warning: Table './muinewdb/watchdog' is marked as crashed and should be repaired query: INSERT INTO in /home2/chroot/mui/htdocs/includes/database.mysql.inc on line 172